#Profil: Mengenal Kang Jong Hyeon dan Kedai Mi Goreng di Ilsan

Lima tahun belakangan ini, rasanya banyak yang tak luput dari k-fever alias demam Korea. Kualitas gambar dan alur cerita drama dari negeri gingseng ini memang patut diapresiasi. Belum lagi suguhan girlband/ boyband dari industri musik yang cukup bikin kita ikutan joget *halah*  Sementara kita sibuk mengagumi garapan negara lain, saya menemukan dua orang Korea yang juga kagum dengan negara kita. Mereka bahkan punya kontribusi cukup besar dalam pengenalan kebudayaan kita ^^

 

  •  강종현 / Kang Jong Hyeon

Saya tidak bisa makan salak, dan durian karena wanginya tidak cocok untuk saya. 

Oppa yang akrab disapa dengan penggilan Joshua merupakan pendiri grup KING (Korea Indonesia Network Group). Tahun 2003 saat pindah ke Incheon, ia kebetulan tinggal di kawasan TKI bermukim. Mulanya sering bertemu, memberi salam, hingga akhirnya belajar dan bisa berbicara bahasa Indonesia – yang tentu membuat para TKI senang. Karena saat itu tidak ada wadah khusus untuk belajar, dibentuklah komunitas online. Saat ini, jumlah member di Facebook group mencapai 19.000. Isi pembahasannya seputar pertukaran budaya, pelajaran bahasa, atau sekadar saling sapa. Di grup ini juga mengadakan pertemuan regional untuk saling mengenal sesama anggota di kotanya. Perjalanan oppa Joshua pertama ke Indonesia pada tahun 2005. Ia bercerita tentang pengalamannya yang diserbu para ojek saat turun dari bus. Makanan kegemarannya, nasi goreng dan mi goreng. “Saya tidak bisa makan salak, dan durian karena wanginya tidak cocok untuk saya.”, katanya. Dalam wawancara via surel oppa berharap semoga dengan adanya grup KING, orang Korea bisa lebih menyukai Indonesia, dan sebaliknya.

Facebook Group: KING (Korea-Indonesia Network Group)

Continue reading

Blue Mountains: Tak cukup sehari!

Kadang, sebuah perjalanan terjadi dari hal-hal yang tak terencana. Setelah beberapa hari cuacanya kayak kamu; nggak jelas maunya gimana, akhirnya hari ini cerah ceria. Jalan-jalan di New South Wales belum sah kalau belum singgah di Blue Mountains, ya nggak sih? Meski dibandrol kata Mountain bukan berarti kita bakal naik gunung, ehe. Berawal dari racau dan impulsif di kepala, saya bergegas menuju Sydney Central (Platform 5). Harga tiket $17.80 (return, limit waktu 12 jam) bisa dibeli di loket, atau langsung tap dari Opal card kalau saldo mencukupi. Keretanya nyaman, warna seatnya ungu, dan nggak banyak penumpang. Selama 2 jam 20 menit saya disuguhkan pemandangan dari beragam suburb hingga pematang gersang.

Kereta dari Sydney Central - Katoomba

Ungu banget tsayyy~

Continue reading

Mantar: Desa di atas awan.

Rasanya tak pernah bosan untuk mengunjungi pulau yang satu ini. Meski terhitung jauh, kapanpun ada tawaran singgah di sini, saya tidak mampu menolak :)) Tarif ferry Lombok – Sumbawa masih sama yaitu IDR49.500/ motor, tanpa diberi kembalian, hahaha. Setiba di Pototano, kami langsung bertemu dengan Comenk; teman baru, yang akan menjadi pemandu kami. Karena hari sudah gelap, kami bergegas menuju Ranger point yang berada di rumah keluarga Comenk. Untuk menuju desa yang ingin kami tuju terdapat 3 cara, yaitu: jalan kaki (jarak tempuh 2 jam untuk warga lokal), menggunakan sepeda motor, atau sewa Ranger. Pilihan kami jatuh pada pilihan terakhir. Kenapa? Karena dari berita yang kami dengar, tanjakan menuju puncak cukup curam. Setelah berada di atas motor selama 12 jam Bali – Lombok – Sumbawa, badan saya tiba-tiba ngilu dengan pilihan pertama. Juga nomor 2. Lagipula, biaya Ranger tidak mahal, karena ditanggung bersama. (Ngeles) (Padahal karena badan menua) (Hiks).

Continue reading

Catatan Awal Tahun

: matahari

Apa rasanya jadi dirimu; tak mengenal suntuk untuk terus kembali, lalu tenggelam bersama kekuatiran manusia yang menantimu di bibir pantai. Apa rasanya jadi dirimu, menyaksikan sesak di kepala manusia yang mengharap guratmu sebagai pelipur, namun pulang dengan getir yang sama. Apa rasanya jadi dirimu; (yang mungkin) lelah tapi tak memiliki pilihan – selain bersinar, hingga derai luka di pipi kami mengering. Apa rasanya jadi dirimu tak lagi akan kupertanyakan. Karena dimulai hari ini, aku, akan mencoba meringankan bebanmu, dengan tak menjadi satu di antara mereka yang datang padamu dengan pilu.

Selamat memasuki babak baru, aku.

Matahari di Brighton beach

Brighton beach

Crystal Creek: Dip to the deep~

Dari Babinda kita beranjak 240 km ke arah selatan. Perjalanan yang memakan waktu lebih dari 3 jam ini didominasi dengan pemandangan kebun pisang, dan tebu. Yak, Queensland utara adalah penghasil terbesar pisang, dan gula. Bagaimana jika di sini paceklik? Ya, otomatis hingga Perth akan mengalami kelangkaan buah :))

Pemberhentian selanjutnya adalah Crystal Creek, yang masuk dalam Taman Nasional Paluma. Berhubung keterbatasan waktu yang kami punya, akhirnya hanya bisa mengunjungi 2 tempat di sini.

Paradise Waterhole/ Big Crystal Creek.

Dinamakan Paradise Waterhole karena memang yang disuguhkan semacam kubangan raksasa dengan air yang sangat sejernih. Tipikal taman Australia, di tempat ini turut menyediakan tempat BBQ. Namun, untuk kemah harus disertai ijin. Mungkin karena ini kawasan taman nasional ya.

IMG_0399.JPG

IMG_0396.JPG

Continue reading

Babinda Boulders: Kisah cinta terlarang.

Hanya berjarak 60 km dari pusat kota Cairns, pemberhentian roadtrip selanjutnya adalah desa Babinda. Dari jalan utama berkisar 7 km dan tibalah kami di tempat yang dinamakan Babinda Boulders. Tak jauh dari parkiran, terdapat swimming hole. Airnya bersih, dan (katanya) tetap dingin meski sedang dalam pertengahan musim panas. Tak hanya itu, jika kita berjalan mengikuti boardwalk, kita akan tiba di sebuah tempat bernama The Devil’s Pool Legend. Menurut sejarah, dulunya ada kisah cinta sepasang aborigin yang berakhir tragis. Adalah Oolana, seorang Yidinji yang sudah menikah dengan sang tetua suku, jatuh cinta dengan seorang pemuda bernama Dyga. Karena dianggap sebuah kriminal, akhirnya mereka berdua kabur. Saat dilakukan pengejaran, Oolana membuang dirinya di aliran sungai ini. Dyga menyusul untuk mencari, tapi Oolana tidak pernah ditemukan. Konon hingga saat ini tangisan Oolana masih sering terdengar.

babinda6

Swimming hole, bersebelahan dengan Mt Bartle Frere, gunung tertinggi di Queensland.

Continue reading

Kuranda: Pesona alam di utara Cairns.

Adalah Kuranda; sebuah kota yang terletak 25 km dari Cairns, yang menjadi destinasi wisata saya kali ini. Crystal Garden Resort & Restaurant. merupakan tempat tinggal saya selama berada di Cairns. Kamarnya bersih, makanannya enak, dan lokasinya nggak jauh dari pusat kota. Setelah sarapan pagi, kami dijemput oleh rombongan. Yay!

Skyrail Rainforest Cableway merupakan pariwisata alam nomor satu yang akan membawamu menikmati keindahan Australia’s World Heritage. Tour yang saya pilih saat itu Skyrail, Railway, dan Rainforest Experience (AUD181/ person, termasuk return transfers dari hotel)

Continue reading