Fenomena ini rasanya mulai melambung di beragam situs jejaring sosial. Tak jarang, yang membaca pun turut hanyut dalam rasa. Fenomena itu, Ia.
Merasuk hati tanpa permisi. Mencuri logika tanpa konklusi. Membuka memori lama dan mengekang intuisi. Ini tentang Ia.
Dimana wajar? Dimana akal? Orang paling merana, jelas otomatis tersandang. Sugesti yang akan membawa kepada sang rasa. Hati tanpa nyawa. Mati.
Bukan cuman kamu, kita, saya rasa hampir semua pernah terjangkit. Seketika lapuk, seketika muram, matilah logika, menelantarkan karya. Lagu sendu, tatapan pilu, mengadu, menderu, aah.. tiada hari tanpa sang biru!
Saya pernah disana. Bermuram durja atas rasa yang terlalu mengada-ada. Saya terjebak disana, meratap kelu atas dia yang berkembang terlalu hebat dalam benak.
Selamat tinggal kubangan! Saya memilih bangun dan membersihkan diri daripada menikmati hisapan yang menenggelamkan.
Untuk bangkit itu seperti hujan. Tak akan berkepanjangan, jika pun begitu -payungi dirimu untuk tidak basah selama bermain di alam luas. Jangan takut hujan, karena bias warna-warni pelangi sudah menanti bersama hangatnya mentari.
Lindungi hatimu, kawan. Boleh bermain dengan rasa, tapi tidak untuk terlalu dalam. Seperti kamu bermain hujan jangan sampai basah, bisa bikin sakit :p
Siap berpetualang dengan hujan?
(Didekasikan kepada para sahabat yang sedang / masih / pernah merasakan Ia. Ia, Galau)
MOVE ON!
xxoo

Jadi berasa kudanil kalo maen dikubangan …hhehehe …nice writing ditaaa …moving forward is my project lately .I’m working on it .I can’t pretend I’m okay,however I should be okay ..at least for me,myself .
JIA YOU!! Banzai ne!
Emuah!
yes, darling.. aku pernah jadi si kudanil yang terlalu lama bermain di kubangan, tapi sekarang udah bersih dong, udah main lagi sama hujan tapi pake payung biar ga basaaah
OKKY PASTI BISAAA! semangaaaaat! :* :*
eaaaa…. mana seru maen hujan pake payung?
hehhehe…got ur point
amin amin amin .pray for the best :*
i wanna be happy again. . .. . \:D/