Selamat malam, malam.
Lembayung senja selama sepekan ikut merona melihat tawa di raut wajah kusut. Tak juga semesta dan seisi alam raya berani ikut menghasut. Akut, hingga takut. Gue kalut.
Satu lagi hari kelu nan jemu yang bikin otak buntu. Belum selesai memangkas ilalang yang memanjang, muncul tanaman rambat di sela hati yang berkarat. Sepekan umurnya ia melekat, rapat.
Akhir pekan itu, sukses menelantarkan ribuan kata dalam semalam, gue, editor kampang lari dan melupakan. Senang, sekaligus malang. Saking gembira bukan kepalang, tak sadar ungkapan ‘itu’ gue lontarkan dengan gamblang. Sayang, sepertinya ada yang tersindir dan merasa gamang.
Tanpa berusaha mengklarifikasi, dari sini gue tertawa melihat ia menyimpulkan atas asumsi sendiri. Sudah ancang-ancang, gue memilih menjauh dan lari. Teteuup, melihatnya sibuk dengan asumsi. Hihihi
Hey, lo! Terserah. Pengen marah tapi ntar yang ada gue malah gerah. Jadi, ya sudahlah. Lewati hari dengan rasa gundah dengan hati yang kondisinya semakin parah.
*taa.