Rip Curl’s Work Days (some/days) — Rip Curl’s Office

Dari senja hingga kembali senja. Adobe Photoshop, hot chocolate, dan tenggelam di hutan alas kaki tanpa nyawa. Canda tawa hingga getir-deadline yang membuat kita mati rasa. Berikut memorabilia kita yang terekam kamera :)

 

Dan inilah ‘ke-kusut-an’ yang terekam :P

@bagusandrian

 

@TheChemy

 

@eshasw

 

@MLDano

 

dan saya, @cathadita

 

Saking lemburnya jadi.. ckck..

 

Dan ini part paling random, kunjungan genk SY -,-

 

Tanpa pikir panjang, akhirnya kami mulai menggila.. :D

Euphoria kala itu.. kapan lagi kita bisa menyatu? Guys, I miss you! (˘⌣˘)ε˘`)

Posted in Memorabilia | 2 Comments

The Temper Trap, Indonesia Tour 2010 (10/11/2010) — Hard Rock Cafe Bali

The Temper Trap, Indonesia Tour 2010 at Hard Rock Café Bali.

Dipercaya mengisi salah satu soundtrack film, 500 Days of Summer, kali ini Ismaya Live memboyong grup musik asal Australia untuk unjuk kemampuan di pentas tanah air. Konser dengan tema The Temper Trap Indonesia Tour 2010 merupakan sebuah seri konser yang menampilkan band ini di tiga kota besar di Indonesia.

Alunan falset nan merdu ala Dougy Mandagi yang merupakan seorang kelahiran Menado membawa band ini lantas mengitari 10 kota di UK. Setelah penantian panjang press conference yang akhirnya dibatalkan, di malam 10 November 2010 akhirnya saya hadir di pagelaran ini. Sepanjang perjalanan agak ugal-ugalan dikarenakan menerima bbm dari Guswib yang konon katanya konser akan segera dimulai *padahal masih jam 11 bo! zz* Dan, whalaa! Setibanya disana, yang mampu saya lihat hanyalah deretan penonton berbadan besar yang sukses menutupi hampir seluruh venue yang dekat dengan stage. Linglung. Saya yang datang sendiri akhirnya harus berjuang menembus lautan wisatawan asing yang besarnya 2x dari saya. Bayangkan saudara-saudaraaa! *phew*

Setelah 15 menit berdiri memandangi stage yang kosong, akhirnya riuh penonton bergema juga. Ada seseorang diatas panggung!! The Temper Trap? Bukan. Rupanya iya seorang soundman yang menempelkan set list di speaker. Warming up dengan aksi DJ Nobody, event yang mayoritas di hadiri oleh wisatawan asing ini cukup memancing atensi. Setelah (dengan berat hati) menikmati lantunan musik elektronik berbau hip-hop, akhirnya susunan personil yang terdiri dari Dougy Mandagi (vokal, gitar), Lorenzo Sillitto (gitar, keyboard), Jonathan Athern (Bass), dan Toby Dundas (Drum) muncul juga. Beberapa hits yang mereka bawakan malam itu seperti Love Lost, Down River, dan Sweet Disposition. Di dukung dengan sound dan lighting yang memukau, The Temper Trap sukses menyihir para penonton dengan mengajak penonton untuk bernyanyi bersama. Dougy yang merupakan putra tanah air pun beberapa kali melontarkan sapaan dalam bahasa Indonesia. Seperti biasa, kami para lokal yang mendengar makin terpana jika mendengar band luar yang berbicara/mencoba melafalkan sapaan dengan bahasa Indonesia padahal mah seharusnya biasa aja kali ya, zz.

Nah, berikut merupakan sedikit dokumentasi ala amatir hasil berdesak-desakan dengan para wisatawan..

Ketat. Satu media cuman dapet jatah satu pass :’(

Nah, pengambilan beberapa gambar dibawah ini posisi saya tepat di depan Jonathan Athern (dan ga bisa bergerak kemana-mana lagi)

Malam semakin larut, sedangkan rasanya masih banyak lagu yang harus dikumandangkan. Dengan suasana yang makin sesak (asap rokok, para wisatawan yang tipsy, pax yang membludak) akhirnya saya memilih untuk pulang mendahului yang lain. Dari sound, lighting, crowd, over all event ini massive lah! \m/

Posted in Event Review | Tagged | Leave a comment

Cerita hujan.

Fenomena ini rasanya mulai melambung di beragam situs jejaring sosial. Tak jarang, yang membaca pun turut hanyut dalam rasa. Fenomena itu, Ia.

Merasuk hati tanpa permisi. Mencuri logika tanpa konklusi. Membuka memori lama dan mengekang intuisi. Ini tentang Ia.

Dimana wajar? Dimana akal? Orang paling merana, jelas otomatis tersandang. Sugesti  yang akan membawa kepada sang rasa. Hati tanpa nyawa. Mati.

Bukan cuman kamu, kita, saya rasa hampir semua pernah terjangkit. Seketika lapuk, seketika muram, matilah logika, menelantarkan karya. Lagu sendu, tatapan pilu, mengadu, menderu, aah.. tiada hari tanpa sang biru!

Saya pernah disana. Bermuram durja atas rasa yang terlalu mengada-ada. Saya terjebak disana, meratap kelu atas dia yang berkembang terlalu hebat dalam benak.

Selamat tinggal kubangan! Saya memilih bangun dan membersihkan diri daripada menikmati hisapan yang menenggelamkan.

Untuk bangkit itu seperti hujan. Tak akan berkepanjangan, jika pun begitu -payungi dirimu untuk tidak basah selama bermain di alam luas. Jangan takut hujan, karena bias warna-warni pelangi sudah menanti bersama hangatnya mentari.

Lindungi hatimu, kawan. Boleh bermain dengan rasa, tapi tidak untuk terlalu dalam. Seperti kamu bermain hujan jangan sampai basah, bisa bikin sakit :p

Siap berpetualang dengan hujan?

(Didekasikan kepada para sahabat yang sedang / masih / pernah merasakan Ia. Ia, Galau)

MOVE ON!

xxoo

Posted in Implisit | 3 Comments

Masuk dalam tipe laki-laki apakah anda?

Merupakan sebuah riset absurd yang gue temukan di SINI dengan sedikit wording ala gue. Gokil, dan gue harap re-post ini berguna untuk lo, cowo-cowo yang selama ini ga merhatiin masuk dalam kategori apakah cara pipis lo menurut ilmu Pipisanology..

- Cowok Jatuh Cinta:
Pipisnya di tembok dan berbentuk love.

(Bisa jadi ini masuk dalam kategori cowok seni, karena di waktu yang terdesak masih sempat membentuk simbol hati, sweet! Alangkah baiknya jika hasil bentuk hatinya di foto, post di facebook, tag ke pacar lo. Kalo lo ga di putusin berarti cwe lo sama gilanya sama lo..)

- Cowok Pembohong:
Selalu bilang mau ke toilet mau pipis, padahal enggak ngapa-ngapain.

(Kemungkinan ini juga masuk dalam kategori cowok narsis, dalih pengen pipis padahal mau fefotoan, foto ala bibir di monyong-monyongin atau foto Im03dz yang mantulin kamera ke kaca.)

- Cowok Pemalu :
Jika merasa dilihat atau d ilirik orang lain, pipisnya tidak keluar, tapi pura-pura menyiram, keluar, lalu kembali lagi kemudian.

(Yang ini pasti minder karena ‘ukuran’)

- Cowok Plin-Plan:
Pipis sekali-kali menghadap ke kiri, sesekali ke kanan, sesekali ke depan dan ke belakang.

(Ini termasuk dalam kategori cowok parno yang kebanyakan nonton film horror yang hanya meresapi di setiap scene kamar mandi)

- Cowok Programmer:
Selalu membuat Flow Chart sebelum pipis.

(Pasti lulusan orang informatika! Stikom? lol)

- Cowok Pesimis:
Selalu mikir kalau mau pipis, apakah pipisnya bisa keluar apa enggak.

(Kebanyakan terjangkit oleh para remaja labil)

- Cowok Pinter:
Selalu membawa buku pelajaran ketika mau pipis.

(Kebanyakan penderitanya datang dari kalangan pelajar dan sederajat, gue sarankan untuk tidak membaca buku berbau eksak. Ribet cyiin, masa iya mau pipis sambil corat-coret angka?!)

- Cowok Agresif:
Pipis sambil meraba-raba dan menjilat-jilat.

(Ini pasti manusia titisan kucing)

- Cowok Ilmuwan:
Selalu pipis di botol, dan kemudian memeriksanya dengan mikroskop.

- Cowok Suka Melamun:
Membuka kancing leher kemeja, mengeluarkan dasinya, lalu pipis dicelana.

(Perhatikan cara jalannya! Kalo sambil ngiler dengan reaksi fisik agak kejang, sudah pasti ia adalah penghuni sekolah khusus yang nyasar ketempat umum)

- Cowok Bodoh:
Selalu dipipisin temennya.

(Hahaha goblog banget ini mah..)

- Cowok Religius:
Selalu berdoa sebelum, selama, dan sesudah pipis.

(Pasti calon pemuka agama..)

- Cowok Mobile:
Pipis sambil ngirim sms atau nelpon.

(Hanya terjadi kepada mereka yang menggunakan provider dengan berlangganan paket sms 0,00000..1/sms atau promo telfon gratisan dan gamau rugi)

- Cowok Durhaka:
Ibunya dipipisin

(Another story of malinkundang)

- Cowok Penakut:
Selalu minta ditemenin kalau mau pipis sambil gemetaran.

(Dalih doang nih, bisa jadi dia nyari ‘mangsa’ hiiy)

- Cowok Efisien :
Meskipun sudah waktunya pipis, tapi ditahan dulu sampai kebelet buang air besar, baru kemudian melakukan keduanya dalam satu waktu yang sama.

(Alesan doang nih biar ga bayar 2x kalo di WC umum..)

- Cowok Pemabuk :
Jempol kiri dipegang dengan tangan kanan, lalu pipis di celana.

(Asal jangan jempol keatas aja.. Settingnya di toilet khan? Bukan di Dalung Expo khan?)

- Cowok Gaul:
Selalu ngumpulin teman-temannya sebelum pipis.

(Aksi solidaritas, cukup baik untuk menjalin hubungan pertemanan untuk kedepannya)

- Cowok Seniman:
Selalu melukiskan pipisnya di pasir atau di tembok.

(Lebih baik di pasir, karena setelah itu bisa dibentuk dan dibuat permainan istana pasir.)

- Cowok Palsu :
Pipis di toilet cewek !

(Pipisnya duduk, ngeluarin bedak sambil benerin make-up. Penderitanya kebanyakan mangkal di taman lawang atau lapangan renon kalo di Bali)

- Cowok Pembalap:
Pipis sambil ngebut di atas motor dengan kecepatan 100km/jam

(Ini pipis yang ga di sengaja, biasanya terjadi dengan orang yang lagi kejar-kejaran sama polisi karna ga mau stop buat razia)

- Cowok Edan :
Memakai celana yang abis dipipisin.

(Marak terjadi kepada para anak kost di akhir bulan, ga bisa nebus laundryan. Miskin underwear)

- Cowok Sarap :
Pakai celana yang habis dipipisin, tapi dicium dulu, kali-kali aja baunya sudah jadi bau.

- Cowok Kreatif :
Kalau pipis kakinya diangkat satu …

(Sebelum pipis pemanasannya split dulu. Yang termasuk dalam kategori ini pasti orang yang berprofesi dalam salah satu akrobatik sirkus)

- Cowok Irit :
Kagak pernah pipis seumur-umur.

(Sekalinya pipis eeh kluarnya batu -.-)

- Cowok Hemat Waktu
Cuma buka resleting, dikeluarin, terus langsung pipis.

(Lah emang biasanya gimana? Pake buka baju segala?)

- Cowok Nggak Sabar:
Pipis di celana

- Cowok Hip-hop :
Pipis sambil kejang-kejang breakdance.

(Hmm..  something special, gangsta abis dah mas bro!)

- Cowok Pembenci :
Sesudah pipis trus ngeludahin pipisnya.

- Cowok Percaya Diri :
Habis pipis, anunya dibawa jalan-jalan ke wastafel, trus cebok di wastafel.

(Weksss)

- Cowok Pelupa :
Sudah pipis, keluar toilet, buru- buru balik lagi, karena masih pingin pipis beberapa tetes lagi.

- Cowok Dermawan :
Pipis di WC Umum, pipisnya nggak keluar, tapi tetep bayar.

(Hahahaaa..)

- Cowok Gaya :
Pipisnya sambil tangan yang satu tolak pinggang.

- Cowok enggak ada kerjaan :
Pipis sambil baca tulisan ini.

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Haru, biru.

Selamat malam, malam.

Lembayung senja selama sepekan ikut merona melihat tawa di raut wajah kusut. Tak juga semesta dan seisi alam raya berani ikut menghasut. Akut, hingga takut. Gue kalut.

Satu lagi hari kelu nan jemu yang bikin otak buntu. Belum selesai memangkas ilalang yang memanjang, muncul tanaman rambat di sela hati yang berkarat. Sepekan umurnya ia melekat, rapat.

Akhir pekan itu, sukses menelantarkan ribuan kata dalam semalam, gue, editor kampang lari dan melupakan. Senang, sekaligus malang. Saking gembira bukan kepalang, tak sadar ungkapan ‘itu’ gue lontarkan dengan gamblang. Sayang, sepertinya ada yang tersindir dan merasa gamang.

Tanpa berusaha mengklarifikasi, dari sini gue tertawa melihat ia menyimpulkan atas asumsi sendiri. Sudah ancang-ancang, gue memilih menjauh dan lari. Teteuup, melihatnya sibuk dengan asumsi. Hihihi ;-)

Hey, lo! Terserah. Pengen marah tapi ntar yang ada gue malah gerah. Jadi, ya sudahlah. Lewati hari dengan rasa gundah dengan hati yang kondisinya semakin parah.

*taa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pemeran si biru di buru menggebu-gebu.

Selamat malam, malam.

Di malam yang dingin ini perkenankanlah gue untuk berbagi. Kalo biasanya yang dibagi adalah sembako, kali ini gue cuman bisa berbagi pikiran, haha.

Dan pikiran yang ingin di bagi kali ini adalah kepenatan gue akan konten media yang sepertinya tak memiliki sumber berita lain yang lebih berbobot untuk di siarkan kepada masyarakat luas. Berbagai news feed, dan headline tak mungkin luput dari berita ini, 3 artis video biru pendatang baru, A, LM, CT.

Fenomena film berbau porno pertama yang dapat diketahui tanggal pembuatannya adalah A L’Ecu d’Or ou la bonne auberge, yang dibuat di Prancis pada 1908. Jalan ceritanya menggambarkan seorang tentara yang kelelahan yang menjalin hubungan dengan seorang perempuan pelayan di sebuah penginapan. Selanjutnya mulai merebak di beberapa negara termasuk di Indonesia. Untuk fact yearnya gue juga gak tau pasti, yang gue tau dari nyokap gue film-film panas tersebut bahkan di tayangkan di televisi di era 70-an (Maklum cyiin yang nulis bocah era 80 akhir jadi gak pernah nonton langsung, lol)

Dan beberapa waktu yang lalu, dalam jangka waktu yang singkat tersebarlah link-link unduhan 3 pemain yang diduga mirip A, LM, CT. Bbm / Ym / Email / Facebook / Twitter, oh man, i’ve got a lot of message about the latest news of ‘em! Adalah gue, emang menjadi salah satu orang yang memburu video tersebut. Dapet link –> di unduh. Menilik undang-undang pornografi pada Oktober 2008, ternyata disitu tercantum pada pasal 4 ayat 1 dan pasal 5 bahwa,

Pasal 4

(1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang memuat:
a.persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
b.kekerasan seksual;
c.masturbasi atau onani;
d.ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; atau
e.alat kelamin.

Pasal 5

Setiap orang dilarang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1).

Nah loh, gue termasuk nih, apakah gue akan di hukum? Bagaimana dengan predikat bangsa kita yang menurut survey sebagai negara pengunduh Miyabi Collection tertinggi di dunia? Apakah jutaan orang ini juga harus masuk hotel rodeo? Wah PR nih buat pemerintah untuk melebarkan lapas untuk menampung orang-orang yang pernah mengunduh, lol.

Hal lain yang belum gue mengerti mengenai undang-undang ini terdapat di pasal berikutnya,

Pasal 6

Setiap orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang diberi kewenangan oleh perundang-undangan.

Apakah ini berarti undang-undang ada kemungkinan memberikan kewenangan untuk membuat video tersebut? Rancu.

Selain karakteristik masyarakat negara kita tercinta yang (sepertinya / memang) gampang di hasut, berbagai aksi oleh beberapa organisasi di luncurkan demi boomingnya kasus yang satu ini. Setelah pembakaran foto korban, aksi berikutnya yang dilakukan biasanya adalah pemboikotan. Dan whalaa.. benar saja, di beberapa kota sudah mulai memboikot ketiga pemain yang ‘karyanya’ sudah beredar luas di negeri ibu pertiwi. Gue gak habis pikir, bukankah kita sudah memiliki lembaga hukum yang menangani kasus seperti ini? Dengan membakar foto dan memboikot bukankah namanya menghakimi sendiri? Well, gue cuman sedikit kaget atas statement seseorang di salah satu stasiun televisi yang melipir di telinga gue sore tadi, ‘Jika polisi tidak bisa memenjarakan mereka, maka kami atas nama blablabla sendiri yang akan menyeret mereka..’ Ngeri.

Geregetan! Begitu kata Sherina, dan idem deh, begitu juga kata gue. Menjamurnya organisasi yang mengatasnamakan agama rupanya bukan jaminan bahwa akan ada perubahan masyarakat secara moril.

Dan menurut gue, apapun yang terjadi, benar atau tidaknya video tersebut, adalah bukan hal yang krusial untuk di bahas. Apalagi dengan menyimpulkan dan mengambil aksi sendiri. Bila memang benar, secara psikologis tentu akan menjadi hukuman tersendiri untuk mereka tanpa harus terus menerus diberitakan. Lagian seandainya benar, biarlah si A berkarya hingga ratusan episode sembari memecahkan rekor sinetron Cinta Fitri dan Tersanjung, lol :-P

Dana aspirasi, kasus suap-menyuap, kasus Lapindo yang gak jelas bagaimana nasib para korbannya, mengapa tidak lebih di kritisi saja hal-hal itu? Well, susah jugalah ya if it depend on trend issues.

Atau lebih mengkampanyekan hal ini mungkin,

Lebih bermakna khan? hehe.

*taa :)

Posted in kritik menggelitik | 2 Comments

Jeritan sang kuli tinta.

Rasa kopi malam ini tak sepeti biasanya, lebih pahit padahal dengan takaran yang sama.

Ada apa?

Kurang dari setahun yang lalu di depan warung Nescafe…

Deg-degan. Ingin tahu bagaimana rupa dan watak calon boss gue.

Sekian lama bekerja sebagai tukang foto yang lompat kesana-kemari, adalah sebuah perusahaan publishing yang akhirnya menjadi pelabuhan formal pertama gue. Curriculum vitae yang tersimpan rapih di folder gue akhirnya di print juga. Sekali lagi, akhirnya di print juga.

Berbekal hobi menulis (baca: curhat), mengikuti beberapa workshop menulis dan aktif mengisi satu rubrik di majalah gereja, tanpa di sangka testing singkat itu berbuah sebuah approval. Gue diterima.

(Baru saja mematikan rokok mentholnya, dan seketikalah beliau memanggil.)

Boss       : “Lo gak freelance khan disini?”

Gue        : “HA?” (Mangap)

Boss       : “Iya, lo office hour khan?”

Gue        : “Ngg.. I, iyaa.. Saya coba..”

Boss       : “Oke, bisa langsung kerja?”

Gue        : “HAA?” (Mangap lebih lebar) “Bisa.”

Instant. Rupanya memang sedang-benar-benar butuh seorang editor sehingga menerima gue yang (menurut gue) basically ga punya keahlian apa-apa. Terutama bahasa inggris. I’m not good to write any kind of articles in English. Kaku, gak cool, kacau.

Sebulan perjalanan karir gue terasa sangat berat. Dan ternyata diikuti oleh bulan-bulan selanjutnya. Job desk itu ternyata tak seperti ekspektasi gue. Adalah 3 majalah yang harus gue handle, pernah terbayang? Tidak? Apalagi gue. Ekspektasi gue dalam sebuah wadah khususnya media adalah pekerjaan yang mengerjakan satu segmentasi yang sesuai dengan kemampuan diri. Seperti Juice Magz yang memiliki editor dalam segmen masing-masing, musik, fashion, liputan, etc. Pupus. Keadaan yang harus gue hadapi adalah sangat luas. Gue dipaksa untuk tau dimana restaurant yang lagi top, rekomendasi warung yang murah, sampai hotel-hotel lengkap dengan ratenya.

Suasana sunyi.

Hari, pemilik meja terdekat dengan meja gue sekaligus orang pertama yang gue recokin di hari pertama bekerja (padahal belum kenal).

Gue        : “Eh, minta tolong dong ga bisa nyolokin chargeran…”

Hari       : (Tanpa suara, bergegas mengambil ujung charger laptop gue, nyolokin dan kembali ke mejanya)

Gue        : “Thanks

Hari       : “Ya”

Kurang bersahabatkah gue?

Fenomena lainnya adalah anak desain lainnya. Seperti robot. Tanpa geming. Sehelai rambut jatuh pun mungkin terdengar. Boring.

Letak meja gue yang menegangkan juga tak luput dari kategori one of my pressure selama menjalani hari. Semacam ada live CCTV, bahkan ini lebih menegangkan dari permainan Hotel 626 / The House yang dimainkan langsung di kuburan.


Apa yang tertera di guideline secara perlahan mulai berubah. Yang tadinya bukan PIC gue, mau gak mau akhirnya gue juga yang handle. Dan semakinlah ini terasa berat.

Keterlambatan kehadiran gue mungkin gak ada yang bisa ngerti. Menulis bukan seperti keran yang dibuka seketika air dengan deras mengalir. Menulis butuh ketenangan, dan suasana yang membuat kita menjiwai tiap kata dari tulisan tersebut. Dan moment ketenangan itu gue temukan justru saat malam larut. Alhasil gue gak pernah bisa ontime untuk ngantor. Ada yang mengerti? Rasanya tidak.

Dan belakangan ini gue mulai tidak peduli akan konten dan kualitas tulisan gue. Menulis secara total dan penuh perasaan belum tentu dibaca khan? Awalnya menulis adalah obsesi yang suatu hari bisa gue kembangkan hingga menelurkan karya, saat ini? Lupakan, ini hanya bagian dari kejar tanggal naik cetak dan persetanlah kualitas.

Maaf.

Maaf untuk beberapa kali ketidaktepatan info yang gue tulis.

Maaf untuk keterlambatan materi belakangan ini.

Maaf untuk ketidakdisiplinan gue terhadap penggunaan waktu.

Dan akhirnya, hari ini…

Walaupun dengan suasana kantor baru, dan suasana personal yang (paling tidak jauh lebih) ceria, sorot mata lelah tak mampu lagi gue sembunyikan.

Tingkat penat segala penat rupanya sudah di ujung kepala. Ingin berteriak ‘cukup’ namun rasanya percuma. Raga rupanya tak mampu lagi menghadapi, jiwa pun mulai lelah menjerit.

Pengangkatan tangan setinggi-tingginya, gue uda gak sanggup lagi menulis lebih banyak dengan jam kerja yang berantakan; pagi – sore ngantor, malem event.

Craving for MY-REAL-TIME. Craving for another editor to share this HUGE jobs.

Gue butuh liburan…

Liburan.

Boleh?

*taa :)

Posted in Uncategorized | 5 Comments